Jakarta - Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengumumkan kekeringan akan melanda Indonesia lebih panjang. Melihat kondisi ini,apakah pemerintah bisa bertahan tidak mengimpor beras?
Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, hingga saat ini pemerintah belum memutuskan melakukan impor beras.
"Sampai saat ini pemerintah belum putuskan untuk lakukan impor beras," ujar Hatta ketika ditemui di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (23/8/2012).
Namun, kata Hatta, yang menjadi kewaspadaan pemerintah adalah BMKG sudah mengumumkan kekeringan akan melanda Indonesia bakal 1 bulan lebih lama dari biasanya.
"Namun BMKG sudah mengumumkan kekeringan lebih panjang satu bulan lagi, artinya pengaruh musim tanam akan mundur satu bulan, dan ini harus diwaspadai dan antisipasi, terutama pada cadangan pangan salah satunya beras," ungkap Hatta.
Bahkan Perum Bulog belum yakin, apakah tahun ini tidak melakukan impor beras. Karena stok beras akhir tahun yang diminta sebesar 2 juta ton dari penyerapan panen petani juga sulit untuk tercapai.
"Kita belum tahu impor atau tidak, namun stok akhir tahun yang diminta pemerintah sebesae 2 juta ton masih terus dikumpulkan, namun berkaca dari tahun-tahun sebelumnya, stok akhir tahun tidak akan pernah mencapai 2 juta ton," kata Kepala Bulog Surato Alimoeso beberapa waktu lalu.
Untuk menghindari impor beras lagi, kata Sutarto, tergantung bagaimana produksi beras dari dalam negeri terutama program dari surplus 10 juta ton pada 2014.
"Jadi kami juga menunggu bagaimana program Kementerian Pertanian surplus 10 juta ton, kalau program tersebut berjalan, kita tidak akan kesulitan untuk melakukan penyerapan," cetusnya.
Kamis, 23 Agustus 2012
Hatta: Impor Beras Untuk Amankan 254 Juta Jiwa Rakyat Indonesia
Jakarta - Pemerintah sampai saat ini belum berpikir untuk kembali mengimpor beras, Namun jika melihat stok beras saat ini dengan ancaman kekeringan yang makin panjang, bisa jadi Indonesia kembali impor beras.
Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan masyatakat tak perlu risau dan khawatir apabila pemerintah terpaksa harus melakukan impor beras.
"Kita sampai saat ini belum melakukan impor beras, tapi kalaupun harus impor beras, jangan khawatir, kita impor kalau tujuannya untuk meningkatkan cadangan beras kita dan mengantisipasi kondisi pangan dunia ke depan apabila terjadi kelangkaan," kata Hatta di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (23/8/2012).
Dikatakan Hatta, saat ini stok beras di gudang Bulog mencapai 1,5 juta ton. Kemudian dengan tujuan meningkatkan cadangan beras, pemerintah menambah impor hingga mencapai stok beras sebesar 2 juta ton atau 2,5 juta ton.
"Jadi misalnya kalau saat ini stok beras di gudang Bulog 1,5 juta ton. Untuk meningkatkan cadangan menjadi 2 juta-2,5 juta ton dengan melalui impor, untuk mengantisipasi kondisi dunia ke depannya, dan juga kekeringan yang semakin panjang dan mengamankan pangan 254 juta jiwa rakyat Indonesia," jelasnya.
Jadi, kata Hatta, tidak perlu harus khawatir jika Indonesia harus melakukan impor beras. Rencana untuk swasembada akan terus dilakukan agar bisa lepas dari impor.
"Jika nanti Indonesia harus impor beras, jangan dianggap kenapa kita harus impor, kenapa kita impor beras padahal kita sudah swasembada beras, jangan begitu cara bepikirnya. Ini demi untuk mengamankan pangan 254 juta jiwa, kalau kita tidak antisipasi lalu ketakutan kita terjadi bisa berbahaya," tandasnya.
Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan masyatakat tak perlu risau dan khawatir apabila pemerintah terpaksa harus melakukan impor beras.
"Kita sampai saat ini belum melakukan impor beras, tapi kalaupun harus impor beras, jangan khawatir, kita impor kalau tujuannya untuk meningkatkan cadangan beras kita dan mengantisipasi kondisi pangan dunia ke depan apabila terjadi kelangkaan," kata Hatta di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (23/8/2012).
Dikatakan Hatta, saat ini stok beras di gudang Bulog mencapai 1,5 juta ton. Kemudian dengan tujuan meningkatkan cadangan beras, pemerintah menambah impor hingga mencapai stok beras sebesar 2 juta ton atau 2,5 juta ton.
"Jadi misalnya kalau saat ini stok beras di gudang Bulog 1,5 juta ton. Untuk meningkatkan cadangan menjadi 2 juta-2,5 juta ton dengan melalui impor, untuk mengantisipasi kondisi dunia ke depannya, dan juga kekeringan yang semakin panjang dan mengamankan pangan 254 juta jiwa rakyat Indonesia," jelasnya.
Jadi, kata Hatta, tidak perlu harus khawatir jika Indonesia harus melakukan impor beras. Rencana untuk swasembada akan terus dilakukan agar bisa lepas dari impor.
"Jika nanti Indonesia harus impor beras, jangan dianggap kenapa kita harus impor, kenapa kita impor beras padahal kita sudah swasembada beras, jangan begitu cara bepikirnya. Ini demi untuk mengamankan pangan 254 juta jiwa, kalau kita tidak antisipasi lalu ketakutan kita terjadi bisa berbahaya," tandasnya.
Senin, 20 Agustus 2012
Rencana Impor Beras dari Vietnam Masih Tahap Pengkajian
Seusai Lebaran, Menteri Perdagangan akan mengajak Bulog guna membahas lebih lanjut tentang rencana pemerintah mengimpor beras 500.000 ton dari Vietnam. Saat ini, rencana impor beras 500.000 ton dari Vietnam masih dalam tahap pengkajian.
Demikian yang dikatakan Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan, saat acara open house di kediaman dinasnya, Minggu (19/8).
“ Hasil kajian ini, ujung-ujungnya ada dua kepentingan yaitu pertama, kita bisa menjaga stabilitas harga; kedua, kita bisa mencapai surplus 10 juta ton beras di tahun 2014,” ujar Gita.
Lebih lanjut dikatakan Gita, untuk mencapai surplus 10 juta ton ini harus mencapai swasembada pangan dulu. Oleh karena itu, harus dicari balancingnya dulu antara kedua kepentingan tersebut.
Di tempat yang sama, Direktur Utama Perum Bulog, Sutarto Alimoeso mengatakan rencana pemerintah mengimpor beras, tergantung pada keputusan pemerintah. Bulog sudah mencoba menghitung-hitung cadangan beras yang harus ada di Bulog. Sekarang masih menunggu waktu yang tepat untuk kepastian impor beras atau tidak.
Kalau sampai hari ini, kata Sutarto, stok beras di dalam negeri masih di atas 2 juta ton. Pada dasarnya dengan stok beras 2 juta ton ini adalah stok yang cukup aman.
Sutarto berharap agar akhir Agustus ini sudah ada keputusan impor atau tidak dari pemerintah. “ Saya kira minggu depan mudah-mudahan hasil kajiannya akan dilakukan evaluasi,” ujar Sutarto
Demikian yang dikatakan Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan, saat acara open house di kediaman dinasnya, Minggu (19/8).
“ Hasil kajian ini, ujung-ujungnya ada dua kepentingan yaitu pertama, kita bisa menjaga stabilitas harga; kedua, kita bisa mencapai surplus 10 juta ton beras di tahun 2014,” ujar Gita.
Lebih lanjut dikatakan Gita, untuk mencapai surplus 10 juta ton ini harus mencapai swasembada pangan dulu. Oleh karena itu, harus dicari balancingnya dulu antara kedua kepentingan tersebut.
Di tempat yang sama, Direktur Utama Perum Bulog, Sutarto Alimoeso mengatakan rencana pemerintah mengimpor beras, tergantung pada keputusan pemerintah. Bulog sudah mencoba menghitung-hitung cadangan beras yang harus ada di Bulog. Sekarang masih menunggu waktu yang tepat untuk kepastian impor beras atau tidak.
Kalau sampai hari ini, kata Sutarto, stok beras di dalam negeri masih di atas 2 juta ton. Pada dasarnya dengan stok beras 2 juta ton ini adalah stok yang cukup aman.
Sutarto berharap agar akhir Agustus ini sudah ada keputusan impor atau tidak dari pemerintah. “ Saya kira minggu depan mudah-mudahan hasil kajiannya akan dilakukan evaluasi,” ujar Sutarto
Sabtu, 18 Agustus 2012
Mentan Minta Bulog Jangan Rajin Impor Beras
Jakarta - Menteri Pertanian Suswono meminta Bulog untuk tidak terburu-buru melakukan impor beras untuk memperkuat cadangan beras dalam negeri.
Suswono berharap agar Bulog mengoptimalkan penyerapan beras dalam negeri. "Sekarang ini masih ada panen kok dimana-mana. Jadi Bulog jangan berpikir untuk impor dulu, tapi optimalkan dari dalam," tuturnya, Jumat (17/8/2012).
Menurutnya, bila Bulog mampu menyerap beras dalam negeri secara optimal maka cadangan beras bisa mencapai 1,5 juta ton hingga akhir tahun ini. "Kalau sudah 1,5 juta ton kita sudah tidak usah impor," ungkapnya.
Hingga semester I 2012, jumlah pengadaan setara beras Bulog telah mencapai 2.336.217 ton. Posisi tersebut meningkat 83% dibandingkan realisasi penyerapan Bulog setara beras pada periode yang sama tahun lalu, sebesar 1.276.883 ton. Total realisasi pengadaan beras dalam negeri pada tahun lalu mencapai 1.742.480 ton.
Bulog telah menggelontorkan dana kredit sebesar Rp15,4 triliun atau 77% dari total anggaran sebesar Rp20 triliun, untuk penyerapan beras tersebut. Sampai dengan saat ini, Bulog pun meraup untung hingga Rp 111 miliar.
Bulog: Importir Tunggal Itu Paling "Safe"
Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso menyatakan, opsi Bulog sebagai importir tunggal adalah yang paling aman untuk menstabilkan harga komoditas yang strategis.
"Kan itu opsi-opsi, kalau Bulog ditanya yang paling safe adalah kalau (importir) tunggal. Itu kan artinya tidak ada distorsi," sebut Sutarto, di kompleks DPR RI, Jakarta, Kamis (16/8/2012).
Sutarto menjelaskan, Pemerintah sekarang ini masih melakukan kajian seperti apa kebijakan yang pas untuk melindungi konsumen dan produsen dari naik-turunnya harga komoditas. Salah satu opsi adalah kemungkinan Bulog menjadi importir tunggal.
Selama ini, jelas Sutarto, Bulog telah menjadi importir tunggal untuk komoditas beras. Artinya, beras menjadi komoditas yang betul-betul dikuasai oleh Pemerintah. Dengan cara itu, ia mengatakan, harga beras pun menjadi stabil.
"Itu artinya yang paling safe. Artinya, kan semua tahu dengan mekanisme beras kemarin yang kita lakukan, itu kan beras tidak ada gangguan masalah harga. Tahun ini betul-betul bisa kita stabilkan," terang dia. Oleh sebab itu, ia pun memandang opsi importir tunggal paling aman untuk diterapkan di komoditas strategis lainnya.
Namun, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan menyatakan rasa tidak setuju bila Bulog menjadi importir tunggal untuk komoditas selain beras. Gita berpendapat, itu akan mengganggu sistem perdagangan yang sudah terbentuk antara pedagang dalam negeri dan eksportir.
"Karena kalau disruptif, nanti konsumen juga yang dirugikan," sebut Gita, di Jakarta, Selasa (14/8/2012).
Terhadap pandangan Mendag tersebut, Sutarto pun berpendapat bahwa tidak masalah bila eksportir terganggu. Ini mengingat eksportir bukan orang Indonesia.
"Pedagang dalam negeri tergantung bagaimana kita menanganinyakan. Tapi kan itu opsi," lanjut Sutarto. "Agustus (keluar hasil kajiannya)," tandasnya.
"Kan itu opsi-opsi, kalau Bulog ditanya yang paling safe adalah kalau (importir) tunggal. Itu kan artinya tidak ada distorsi," sebut Sutarto, di kompleks DPR RI, Jakarta, Kamis (16/8/2012).
Sutarto menjelaskan, Pemerintah sekarang ini masih melakukan kajian seperti apa kebijakan yang pas untuk melindungi konsumen dan produsen dari naik-turunnya harga komoditas. Salah satu opsi adalah kemungkinan Bulog menjadi importir tunggal.
Selama ini, jelas Sutarto, Bulog telah menjadi importir tunggal untuk komoditas beras. Artinya, beras menjadi komoditas yang betul-betul dikuasai oleh Pemerintah. Dengan cara itu, ia mengatakan, harga beras pun menjadi stabil.
"Itu artinya yang paling safe. Artinya, kan semua tahu dengan mekanisme beras kemarin yang kita lakukan, itu kan beras tidak ada gangguan masalah harga. Tahun ini betul-betul bisa kita stabilkan," terang dia. Oleh sebab itu, ia pun memandang opsi importir tunggal paling aman untuk diterapkan di komoditas strategis lainnya.
Namun, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan menyatakan rasa tidak setuju bila Bulog menjadi importir tunggal untuk komoditas selain beras. Gita berpendapat, itu akan mengganggu sistem perdagangan yang sudah terbentuk antara pedagang dalam negeri dan eksportir.
"Karena kalau disruptif, nanti konsumen juga yang dirugikan," sebut Gita, di Jakarta, Selasa (14/8/2012).
Terhadap pandangan Mendag tersebut, Sutarto pun berpendapat bahwa tidak masalah bila eksportir terganggu. Ini mengingat eksportir bukan orang Indonesia.
"Pedagang dalam negeri tergantung bagaimana kita menanganinyakan. Tapi kan itu opsi," lanjut Sutarto. "Agustus (keluar hasil kajiannya)," tandasnya.
Rabu, 15 Agustus 2012
Indonesia siap-siap impor beras dari Vietnam
JAKARTA. Vietnam sepakat memberikan opsi pembelian beras sebanyak 500.000 ton kepada Indonesia jika diperlukan setelah bulan September mendatang. Hal ini disampaikan salah seorang pejabat Indonesia di Jakarta.
Opsi mengimpor beras dari Vietnam tersebut dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya inflasi serta krisis pangan. Indonesia sebagai negara terpadat keempat dunia khawatir, kekeringan di Amerika Serikat membuat harga pangan jagung dan kedelai naik.
"Pemerintah telah membuat langkah-langkah dalam impor," kata salah satu pejabat di Perum pengadaan Bulog. Ia bilang, impor beras dari Vietnam tersebut bisa dilakukan jika Indonesia membutuhkan. "Kemungkinan diperlukannya setelah akhir September," tambahnya.
Di Hanoi, koran Vietnam Economic Times melaporkan, kesepakatan pembelian beras antar pemerintah itu tidak menjelaskan soal harga atau pengiriman. Adanya permintaan beras dari Indonesia itu, membuat harga beras di Vietnam kembali naik.
"Perusahaan Vinafood 2 telah membeli beras lagi untuk membangun saham, mereka takut harga bisa naik," kata seorang pedagang di Ho Chi Minh. Ia menambahkan, bahwa harga domestik meningkat dalam dua pekan terakhir setelah Indonesia berminat membeli beras Vietnam.
Beras tingkat pecahan 15% di Vietnam naik dari semula US$ 415 per ton kini menjadi US$ 420 per ton.
Opsi mengimpor beras dari Vietnam tersebut dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya inflasi serta krisis pangan. Indonesia sebagai negara terpadat keempat dunia khawatir, kekeringan di Amerika Serikat membuat harga pangan jagung dan kedelai naik.
"Pemerintah telah membuat langkah-langkah dalam impor," kata salah satu pejabat di Perum pengadaan Bulog. Ia bilang, impor beras dari Vietnam tersebut bisa dilakukan jika Indonesia membutuhkan. "Kemungkinan diperlukannya setelah akhir September," tambahnya.
Di Hanoi, koran Vietnam Economic Times melaporkan, kesepakatan pembelian beras antar pemerintah itu tidak menjelaskan soal harga atau pengiriman. Adanya permintaan beras dari Indonesia itu, membuat harga beras di Vietnam kembali naik.
"Perusahaan Vinafood 2 telah membeli beras lagi untuk membangun saham, mereka takut harga bisa naik," kata seorang pedagang di Ho Chi Minh. Ia menambahkan, bahwa harga domestik meningkat dalam dua pekan terakhir setelah Indonesia berminat membeli beras Vietnam.
Beras tingkat pecahan 15% di Vietnam naik dari semula US$ 415 per ton kini menjadi US$ 420 per ton.
Rabu, 08 Agustus 2012
Kontroversi Rencana Impor Beras
BEBERAPA hari terakhir media ramai memberitakan tentang rencana pemerintah mengimpor beras. Rencana itu dilakukan di tengah produksi beras surplus dan serapan Bulog optimal (SM, 23/07/12). Sudah tentu kebijakan ini pantas untuk digugat dan diperdebatkan.
Rencana impor beras kali pertama mencuat saat Kementerian Perdagangan Kamboja melalui situs Oryza News menyatakan bahwa Indonesia akan membeli 100.000 ton beras dari Kamboja. Nota kesepahaman akan ditandatangani pada Agustus. Sungguh hal ini sangat kontroversial mengingat belum lama berselang BPS melansir data angka ramalan (Aram) produksi padi nasional 2012.
Menurut Aram BPS produksi padi nasional 2012 mencapai 68,59 juta ton gabah kering giling (GKG). Angka itu diperoleh dari produksi riil Januari hingga April 2012 ditambah perkiraan produksi Mei-Desember 2012. Angka produksi itu meningkat 4,31% dibanding tahun lalu yang 65,76 juta ton GKG.
Jika ramalan produksi padi 68,59 juta ton GKG terealisasi, nominal tersebut akan setara dengan 38.563 juta ton beras. Dengan asumsi konsumsi beras penduduk 135,01 kilogram/kapita/tahun maka kebutuhan beras nasional mencapai 33.035 juta ton. Akhir tahun 2012 terjadi surplus produksi beras 5,5 juta ton.
Kontroversi rencana impor beras ini sangat wajar karena tak ada satu pun alasan pembenar bagi pemerintah untuk panen beras di pelabuhan (baca: impor). Di samping prediksi produksi beras nasional tahun ini bagus, capaian prestasi pengadaan beras dalam negeri oleh Bulog juga cukup menggembirakan. Dari prognosa pengadaan beras 2012 sebesar 3 juta ton, saat ini telah terealisasi 2,5 juta ton. Angka penyerapan beras petani oleh Bulog ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan angka penyerapan tahun lalu yang hanya 1,8 juta ton.
Satu hal yang juga perlu dipertanyakan, rencana impor beras kali ini tidak didahului dengan kajian akademis yang memadai. Memang, dari perhitungan waktu sejak dikeluarkan Aram produksi beras BPS masih menyisakan waktu 6 bulan hingga akhir 2012. Sepanjang beberapa bulan ke depan kita akan memasuki musim kering. Namun kita belum pernah mendengar sinyal dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang menyatakan bahwa musim kering kali ini sangat ekstrem, atau terdapat kondisi ekstrem lain yang mengharuskan pemerintah mengimpor beras.
Revitalisasi Pertanian
Rencana impor beras di tengah melimpahnya produksi di dalam negeri, serta tidak adanya kondisi darurat yang mengharuskan impor, menjadi bukti betapa penentu kebijakan pangan di negeri ini masih terjangkiti penyakit myopic. Selalu memandang peran pangan dalam domain sempit dan horizon pendek. Mengabaikan pentingnya kemandirian pangan karena akses impor sangat mudah dilakukan.
Akibat lebih jauh, meski sumber daya alamnya melimpah, Indonesia mencatatkan defisit neraca perdagangan komoditas pertanian, yang sangat menyedihkan ketika peningkatannya 200 kali lipat hanya dalam waktu kurang dari 6 tahun. Data Bappenas tentang neraca perdagangan komoditas pertanian Indonesia menyebutkan tahun 2006 terjadi defisit 28,03 juta dolar AS. Angka nominal defisit neraca perdagangan tersebut membengkak menjadi 5,509 miliar dolar AS pada 2011.
Menurut catatan BPS, hingga semester pertama 2011 impor pangan negara kita mencapai 6,35 miliar dolar AS atau lebih dari Rp 57 triliun. Devisa sebesar itu dapat digunakan untuk membangun sebuah kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah selama lebih dari 57 tahun. Saat ini rata-rata APBD kabupaten/ kota sekitar Rp 1 triliun/tahun. Ironis memang.
Untuk mencegahnya hal itu terjadi program revitalisasi pertanian harus benar-benar dilakukan dengan kegiatan yang lebih membumi. Antara lain dengan membangun dan memperbaiki berbagai sarana infrastruktur pertanian dan perdesaan, memperbesar akses permodalan dan kredit petani, pengembangan riset teknologi di bidang pertanian, memberikan perlindungan pasar kepada petani, dan mempercepat pelaksanaan reformasi agraria.
Rencana impor beras kali pertama mencuat saat Kementerian Perdagangan Kamboja melalui situs Oryza News menyatakan bahwa Indonesia akan membeli 100.000 ton beras dari Kamboja. Nota kesepahaman akan ditandatangani pada Agustus. Sungguh hal ini sangat kontroversial mengingat belum lama berselang BPS melansir data angka ramalan (Aram) produksi padi nasional 2012.
Menurut Aram BPS produksi padi nasional 2012 mencapai 68,59 juta ton gabah kering giling (GKG). Angka itu diperoleh dari produksi riil Januari hingga April 2012 ditambah perkiraan produksi Mei-Desember 2012. Angka produksi itu meningkat 4,31% dibanding tahun lalu yang 65,76 juta ton GKG.
Jika ramalan produksi padi 68,59 juta ton GKG terealisasi, nominal tersebut akan setara dengan 38.563 juta ton beras. Dengan asumsi konsumsi beras penduduk 135,01 kilogram/kapita/tahun maka kebutuhan beras nasional mencapai 33.035 juta ton. Akhir tahun 2012 terjadi surplus produksi beras 5,5 juta ton.
Kontroversi rencana impor beras ini sangat wajar karena tak ada satu pun alasan pembenar bagi pemerintah untuk panen beras di pelabuhan (baca: impor). Di samping prediksi produksi beras nasional tahun ini bagus, capaian prestasi pengadaan beras dalam negeri oleh Bulog juga cukup menggembirakan. Dari prognosa pengadaan beras 2012 sebesar 3 juta ton, saat ini telah terealisasi 2,5 juta ton. Angka penyerapan beras petani oleh Bulog ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan angka penyerapan tahun lalu yang hanya 1,8 juta ton.
Satu hal yang juga perlu dipertanyakan, rencana impor beras kali ini tidak didahului dengan kajian akademis yang memadai. Memang, dari perhitungan waktu sejak dikeluarkan Aram produksi beras BPS masih menyisakan waktu 6 bulan hingga akhir 2012. Sepanjang beberapa bulan ke depan kita akan memasuki musim kering. Namun kita belum pernah mendengar sinyal dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang menyatakan bahwa musim kering kali ini sangat ekstrem, atau terdapat kondisi ekstrem lain yang mengharuskan pemerintah mengimpor beras.
Revitalisasi Pertanian
Rencana impor beras di tengah melimpahnya produksi di dalam negeri, serta tidak adanya kondisi darurat yang mengharuskan impor, menjadi bukti betapa penentu kebijakan pangan di negeri ini masih terjangkiti penyakit myopic. Selalu memandang peran pangan dalam domain sempit dan horizon pendek. Mengabaikan pentingnya kemandirian pangan karena akses impor sangat mudah dilakukan.
Akibat lebih jauh, meski sumber daya alamnya melimpah, Indonesia mencatatkan defisit neraca perdagangan komoditas pertanian, yang sangat menyedihkan ketika peningkatannya 200 kali lipat hanya dalam waktu kurang dari 6 tahun. Data Bappenas tentang neraca perdagangan komoditas pertanian Indonesia menyebutkan tahun 2006 terjadi defisit 28,03 juta dolar AS. Angka nominal defisit neraca perdagangan tersebut membengkak menjadi 5,509 miliar dolar AS pada 2011.
Menurut catatan BPS, hingga semester pertama 2011 impor pangan negara kita mencapai 6,35 miliar dolar AS atau lebih dari Rp 57 triliun. Devisa sebesar itu dapat digunakan untuk membangun sebuah kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah selama lebih dari 57 tahun. Saat ini rata-rata APBD kabupaten/ kota sekitar Rp 1 triliun/tahun. Ironis memang.
Untuk mencegahnya hal itu terjadi program revitalisasi pertanian harus benar-benar dilakukan dengan kegiatan yang lebih membumi. Antara lain dengan membangun dan memperbaiki berbagai sarana infrastruktur pertanian dan perdesaan, memperbesar akses permodalan dan kredit petani, pengembangan riset teknologi di bidang pertanian, memberikan perlindungan pasar kepada petani, dan mempercepat pelaksanaan reformasi agraria.
Langganan:
Postingan (Atom)
