PT. PAN ASIA SUPERINTENDENCE CABANG BATAM

Kamis, 12 Juli 2012

Pemko Batam Gelar Sembako Murah Tahap Pertama


BATAM – Wali Kota Batam Ahmad Dahlan membuka kegiatan bazar sembako murah Pemerintah Kota Batam 2012, Rabu (11/7) bertempat di Kantor Lurah Batu Merah, Kecamatan Batu Ampar. Sebanyak 850 paket sembako yang tediri dari 5 kg beras, 3 liter minyak goreng dan 1 kg gula pasir dalam kemasan pabrik dijual kepada Masyarakat dengan harga limapuluh ribu Rupiah. Paket tersebut telah mendapat subsidi dari Pemko Batam sebesar 49,82 untuk setiap paketnya.
Kepala Bagian Perekonomian Leo Putra selaku ketua pelaksana mengatakan tujuan dari kegiatan ini merupakan kegiatan rutin Pemerintah Kota Batam dalam bentuk bantuan sembako bersubsidi kepada masyarakat Kota Batam.
“Kegiatan ini juga dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan rumah tangga dan meringankan beban pengeluaran masyarakat memasuki saat bulan Ramadan, Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru,” katanya.
Secara keseluruhan Pemko Batam melalui Bagian Perekonomian menyiapkan 18,000 paket untuk 12 Kecamatan Se Kota Batam yang dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama ini disalurkan menjelang Bulan suci Ramadhan 1433 H tanggal 11 Juli-07 Agustus 2012 yang dimulai di Kecamatan Batuampar tepatnya di Kelurahan Batu Merah yang akan di lanjutkan di sebelas Kecamatan lainnya. Sedangkan Tahap kedua dilaksanakan 23 Oktober-27 Nopember 2012 mendatang tepatnya menyambut Natal dan tahun baru, jelas Leo.
Walikota Batam Ahmad Dahlan dalam sambutannya mengatakan mengatakan krisis ekonomi dunia yang terjadi berdampak naiknya harga berbagai kebutuhan bahan pokok sangat membebani kehidupan masyarakat serta telah mengakibatkan menurunnya daya beli masyarakat, tidak terkecuali masyarakat di Kota Batam. Kondisi tersebut dikhawatirkan juga akan mengakibatkan terjadinya peningkatan jumlah penduduk rawan pangan.
Melalui pelaksanaan kegiatan bazar sembako tersebut Dahlan berharap dapat memberikan manfaat yang nyata bagi seluruh masyarakat Kota Batam dalam meningkatkan ketahanan, khususnya kebutuhan akan beras, gula pasir dan minyak goreng serta dapat meringankan beban hidup masyarakat dalam kondisi ekonomi saat ini. “Semoga kegiatan ini dapat berkelanjutan pada tahun-tahun mendatang,” ungkap Dahlan.
Kepada panitia pelaksana Dahlan berharap agar pelaksanaan kegiatan bazar sembako murah dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan memberikan kemudahan pelayanan bagi para lansia, ibu hamil dan ibu yang memiliki balita serta agar selalu memperhatikan prinsip tepat sasaran, tepat jumlah, tepat harga, tepat waktu dan tepat administrasi.
Dalam kesempatan tersebut Dahlan serahkan paket sembako secara simbolis kepada warga Batu Merah. Diakhir acara Dahlan ikut serta meninjau pembagian sembako murah, tak segan-segan menuliskan nama dan alamat warga yang buta huruf sebagai data pengambil sembako murah. Dan sebelum masuk ke dalam mobilnya, Dahlan menyempatkan diri menyerahkan sembako murah tersebut kepada warga yang sudah mengantri di truk sembako.

Bulog Jamin Tak Ada Beras Impor

Bulog Divre Jateng menjamin selama 2012 Jawa Tengah tidak akan menerima beras impor. Sebab selama Januari-Juni 2012 surplus beras di provinsi ini mencapai 2,225, juta ton, dengan total poduksi 3,986 juta ton.
"Kami tetap akan menggunakan beras produksi Jawa Tengah, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat," kata Kepala Divre Perum Bulog Jateng Hari Susetyo, Rabu (11/7).
Menurut Hari, Jateng tak perlu khawatir kekurangan beras, sebab di sisa waktu panen gadu sampai dengan Desember nanti, Bulog masih bisa menyerap beras dari petani.
Sejak Januari-Juni, Bulog dapat menyerap 25 persen dari total surplus 2,225 juta ton, dan menyerap total produksi beras sebanyak 14 persen. Apalagi saat memasuki musim rendeng nanti, Bulog mampu menyerap 6.500-7.500 ton per hari, bila dibandingkan musim gadu yang hanya 2.500-3.500 ton per hari.
"Hasil surplus sebagian besar masuk ke gudang-gudang Bulog Jateng. Bila kapasitas gudang tidak mencukupi, Bulog masih memiliki 60 gudang filial milik pemasok beras mitra kerja Bulog," ujarnya.
Hari mengatakan, stok beras di wilayah Jateng cukup hingga Maret 2013. Saat ini stok beras di seluruh gudang Bulog mencapai 405.149 ton, dengan penyaluran raskin per bulan 44.000 ton.
Jumlah stok tersebut diprediksi dapat memenuhi kebutuhan konsumsi beras sampai sembilan bulan ke depan dengan rata rata pengadaan harian mencapai 2.500-3.500 ton per hari.
"Realisasi pengadaan beras sampai 11 Juli sudah mencapai 577.493 ton atau 73,87 persen dari prognosa 2012 yakni 781.750 ton. Bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu, ada peningkatan realisasi sebesar 111 persen," paparnya.
Guna memperluas area penyerapan beras dan meningkatkan produksi, Bulog melakukan jemput bola dengan kegiatan jaringan semut yang menggandeng gapoktan, dan penggilingan nonmitra.
Bulog juga bekerjasama dengan pemerintah kabupaten melalui penanaman padi dan membeli hasil produksinya. "Program jaringan semut mampu menyumbang hingga 10 persen dari penyerapan beras Bulog," tuturnya.
Soal harga beras, dia meminta ada pengawasan dari dinas terkait soal itu. Sebab bila harga di pasaran tinggi, Bulog akan sulit menyerap beras dari petani. "Tapi Bulog memiliki fungsi komersial, yakni dapat membeli dengan harga lebih tinggi dari HPP, kemudian dijual ke pasar," katanya.

Tahun Ini Bulog Tidak Impor Beras

Badan Urusan Logistik (Bulog) optimistis tahun ini tak akan melakukan importasi beras.

Hal tersebut dipacu proyeksi yang cukup positif terhadap surplus beras hingga akhir tahun yang bisa mencapai 5,5 juta ton.

Lantaran itu, Bulog pun menggenjot pengadaan beras petani bahkan hingga akhir Juli mendatang.

Direktur Utama Perum Bulog, Sutarto Alimoeso mengatakan, berdasarkan data Badan Pusat Statistika (BPS), produksi gabah kering giling (GKG) pada 2012 diproyeksi bisa mencapai 2,84 juta ton, atau naik 4,31 persen dibandingkan 2011.

“Tergantung bagaimana masalah iklimnya. Kalau iklim dan produksi baik, maka pada 2012 seyogyanya bisa surplus beras 5,5 juta ton. Saya tidak ingin impor beras,” ungkap Sutarto pada pemaparan kinerja semester pertama Perum Bulog, Rabu (4/7).

Bahkan, dia melanjutkan, jika iklim menunjang, maka pada akhir Desember mendatang, Bulog menargetkan tetap mampu melakukan pengadaan beras hingga 1,1 juta ton.

Menurutnya, angka ramalan tersebut bisa naik bila sistem pertanian mampu berjalan dengan baik, seperti bantuan pupuk dan benih, yang berjalan dengan lancar dan tidak tersendat.

Mentan: Mungkin Saja Impor Beras meski Surplus

Menteri Pertanian Suswono menyatakan impor beras untuk mencukupi kebutuhan yang meningkat menjelang puasa dan hari raya masih dimungkinkan meskipun produksi beras nasional mengalami surplus dengan kenaikan produksi mencapai 4,31%.

"Jika dibandingkan antara produksi dan permintaan, persediaan beras sampai September sudah mencapai tujuh juta ton sedangkan permintaannya lima juta ton, namun ketersediaan beras di pasar untuk masyarakat bergantung dari daya serap Bulog," kata Suswono di Jakarta, Selasa (10/7).

Suswono mengatakan bahwa pemerintah berharap Bulog tahun ini dapat menyerap setidaknya 3,5 juta ton beras dalam negeri. Sampai bulan Juni, serapan Bulog sudah mencapai 2,4 juta ton.

"Jika daya serap Bulog untuk beras lokal bagus dan lebih mengutamakan produksi dalam negeri, maka Indonesia tidak akan mengimpor beras," kata dia.

Suswono juga mengungkapkan bahwa ketersediaan bahan pokok lain selama bulan Ramadhan dan hari raya yang diperkirakan akan melonjak sampai saat ini masih dalam taraf aman.

"Untuk daging misalnya, stok daging untuk kebutuhan rumah tangga masih cukup sehingga tidak perlu impor tambahan, sementara untuk kebutuhan industri memang belum cukup," kata Suswono.

Suswono mengungkapkan bahwa selama tahun ini, dari 480.000 ton kebutuhan daging nasional, 399.000 ton di antaranya dipenuhi dari peternakan lokal.

Suswono juga mengakui bahwa mendekati bulan puasa ini, sudah ada gejolak kecil kenaikan harga bahan pokok, namun fluktuasi tersebut masih berada dalam taraf yang bisa dijangkau dengan daya beli masyarakat.

"Fenomena seperti ini rutin menjelang Ramadhan sehingga pemerintah masih bisa mengantisipasinya," katanya.

Jumat, 06 Juli 2012

Bulog Tak Impor Beras Lagi

Direktur Utama perum Bulog Sutarto Alimoeso memastikan Badan Urusan Logistik (Bulog) tahun ini tak akan impor beras. Hal ini dipacu proyeksi cukup positif terhadap surplus beras hingga akhir tahun yang bisa mencapai 5,5 juta ton. karena itu, Bulog pun menggenjot pengadaan beras petani bahkan hingga akhir Juli mendatang.

Sutarto Alimoeso menambahkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistika (BPS), produksi gabah kering giling (GKG) pada 2012 diproyeksi bisa mencapai 2,84 juta ton, atau naik 4,31 persen dibandingkan 2011.

Menurutnya, angka ramalan bisa naik jika sistem pertanian mampu berjalan dengan baik, seperti bantuan pupuk dan benih, yang berjalan dengan lancar dan tidak tersendat. Sampai Mei ditarget 2 juta ton.

Hingga semester pertama 2012, jumlah pengadaan setara beras Bulog telah mencapai 2.336.217 ton. Posisi tersebut meningkat 83 persen dibandingkan realisasi penyerapan Bulog setara beras pada periode yang sama tahun lalu, sebesar 1.276.883 ton. Total realisasi pengadaan beras dalam negeri pada tahun lalu mencapai 1.742.480 ton.

Dengan performa penyerapan beras hingga paro pertama 2012 tersebut, Bulog telah menggelontorkan dana kredit sebesar Rp 15,4 triliun, atau 77 persen dari total anggaran sebesar Rp 20 triliun. Sampai dengan saat ini, Bulog pun meraup untung hingga Rp 111 miliar.

Senin, 02 Juli 2012

Target Swasembada Pangan Terkendala Luas Lahan

Target swasembada pangan nasional masih terbentur ketersediaan lahan dan infrastruktur dasar. Pemerintah sulit menyiapkan lahan dalam jumlah besar untuk mendongkrak produktivitas pangan nasional.

"Swasembada kedelai membutuhkan 500 ribu hektare (Ha) dan gula 350 ribu Ha. Itu semua belum terpenuhi," kata Menteri Pertanian Suswono saat pembukaan rapat kerja dan konsultasi nasional Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) di Pontianak, Kalimantan Barat, Minggu (1/7) malam .

Suswono menjelaskan persoalan tersebut terkait pembebasan dan tumpang tindih peruntukan lahan dalam rencana tata ruang dan wilayah (RTRW). Akibatnya, pemerintah sulit mencetak lahan baru untuk pengembangan tanaman pangan. Termasuk, memanfaatkan lahan kritis. "Walaupun banyak tersedia lahan di depan mata tetapi setelah dicek ternyata itu kawasan hutan. Padahal, hutannya tidak ada lagi," jelas Mentan.

Ia mengungkapkan Badan Pertanahan Nasional (BPN) pernah berjanji membebaskan 2 Ha dari 7,5 Ha lahan terlantar untuk areal pertanian. Janji tersebut hingga kini belum teralisasi karena eksekusi kepemilikan lahan selalu gagal. Namun, Mentan tidak menyebut lokasi lahan yang dimaksud. "Eksekusi memang tidak mudah tapi masak pemerintah kalah. Kalau memang aturannya yang tidak mendukung, kan bisa diubah," ungkapnya.

Suswono menambahkan, areal pertanian semakin tergerus untuk kegiatan pembangunan. Sekitar 100 ribu Ha areal pertanian di Indonesia beralih fungsi menjadi lahan perkebunan dan nonpertanian setiap tahun. Kondisi infrastruktur dasar juga memberikan kontribusi terhadap perlambatan target swasembada pangan. Selain kondisi jalan yang belum memadai, banyak saluran irigasi yang rusak. "Sekitar 52% (saluran) irigasi rusak. Begitulah faktanya," ujar politikus Partai Keadilan Sejahtera itu

Pemerintah Tetap Impor Beras meski Produksi Surplus

Produksi beras telah mengalami surplus untuk tiap tahun. Tetapi, pemerintah bakal tetap mengimpor beras. Alasannya, untuk mengamankan kebutuhan sepanjang tahun.

Menteri Pertanian Suswono di Pontianak, Kalimantan Barat, Minggu (1/7) malam, mengungkapkan produksi beras nasional tahun ini mencapai 37 juta ton. Sedangkan kebutuhan dalam negeri mencapai 33,5 juta ton. Sehingga, terjadi surplus 3,5 juta ton. Hanya saja, menurut Suswono, surplus itu belum mampu memenuhi cadangan pangan nasional. "Konsumsi nasional beras mencapai 2,8 juta ton per bulan. Jadi, untuk cadangan selama tiga bulan dibutuhkan sekitar 10 ton," kata politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut saat pembukaan rapat kerja dan konsultasi nasional Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo

Suswono mengakui persoalan perberasan sangat kompleks. Di satu sisi, pemerintah harus mencukupi kebutuhan beras untuk masyarakat dengan harga murah. Di sisi lain, pemerintah juga dituntut meningkatkan kesejahteraan petani.

"Peran Bulog (Badan Urusan Logistik) untuk menyerap beras lokal juga belum optimal, yakni hanya 2,3 juta ton. Sebab, penyerapannya dibatasi harga pembelian pemerintah," urainya.

Suswono juga mengkritik kalangan pengusaha yang lebih tertarik berinvestasi di sektor perkebunan, semisal kelapa sawit daripada sektor tanaman pangan. "Padahal, (bisnis) kelapa sawit suatu saat akan mengalami titik jenuh," kata dia.