Target swasembada pangan nasional masih terbentur ketersediaan lahan dan infrastruktur dasar. Pemerintah sulit menyiapkan lahan dalam jumlah besar untuk mendongkrak produktivitas pangan nasional.
"Swasembada kedelai membutuhkan 500 ribu hektare (Ha) dan gula 350 ribu Ha. Itu semua belum terpenuhi," kata Menteri Pertanian Suswono saat pembukaan rapat kerja dan konsultasi nasional Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) di Pontianak, Kalimantan Barat, Minggu (1/7) malam .
Suswono menjelaskan persoalan tersebut terkait pembebasan dan tumpang tindih peruntukan lahan dalam rencana tata ruang dan wilayah (RTRW). Akibatnya, pemerintah sulit mencetak lahan baru untuk pengembangan tanaman pangan. Termasuk, memanfaatkan lahan kritis. "Walaupun banyak tersedia lahan di depan mata tetapi setelah dicek ternyata itu kawasan hutan. Padahal, hutannya tidak ada lagi," jelas Mentan.
Ia mengungkapkan Badan Pertanahan Nasional (BPN) pernah berjanji membebaskan 2 Ha dari 7,5 Ha lahan terlantar untuk areal pertanian. Janji tersebut hingga kini belum teralisasi karena eksekusi kepemilikan lahan selalu gagal. Namun, Mentan tidak menyebut lokasi lahan yang dimaksud. "Eksekusi memang tidak mudah tapi masak pemerintah kalah. Kalau memang aturannya yang tidak mendukung, kan bisa diubah," ungkapnya.
Suswono menambahkan, areal pertanian semakin tergerus untuk kegiatan pembangunan. Sekitar 100 ribu Ha areal pertanian di Indonesia beralih fungsi menjadi lahan perkebunan dan nonpertanian setiap tahun. Kondisi infrastruktur dasar juga memberikan kontribusi terhadap perlambatan target swasembada pangan. Selain kondisi jalan yang belum memadai, banyak saluran irigasi yang rusak. "Sekitar 52% (saluran) irigasi rusak. Begitulah faktanya," ujar politikus Partai Keadilan Sejahtera itu
Senin, 02 Juli 2012
Pemerintah Tetap Impor Beras meski Produksi Surplus
Produksi beras telah mengalami surplus untuk tiap tahun. Tetapi, pemerintah bakal tetap mengimpor beras. Alasannya, untuk mengamankan kebutuhan sepanjang tahun.
Menteri Pertanian Suswono di Pontianak, Kalimantan Barat, Minggu (1/7) malam, mengungkapkan produksi beras nasional tahun ini mencapai 37 juta ton. Sedangkan kebutuhan dalam negeri mencapai 33,5 juta ton. Sehingga, terjadi surplus 3,5 juta ton. Hanya saja, menurut Suswono, surplus itu belum mampu memenuhi cadangan pangan nasional. "Konsumsi nasional beras mencapai 2,8 juta ton per bulan. Jadi, untuk cadangan selama tiga bulan dibutuhkan sekitar 10 ton," kata politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut saat pembukaan rapat kerja dan konsultasi nasional Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo
Suswono mengakui persoalan perberasan sangat kompleks. Di satu sisi, pemerintah harus mencukupi kebutuhan beras untuk masyarakat dengan harga murah. Di sisi lain, pemerintah juga dituntut meningkatkan kesejahteraan petani.
"Peran Bulog (Badan Urusan Logistik) untuk menyerap beras lokal juga belum optimal, yakni hanya 2,3 juta ton. Sebab, penyerapannya dibatasi harga pembelian pemerintah," urainya.
Suswono juga mengkritik kalangan pengusaha yang lebih tertarik berinvestasi di sektor perkebunan, semisal kelapa sawit daripada sektor tanaman pangan. "Padahal, (bisnis) kelapa sawit suatu saat akan mengalami titik jenuh," kata dia.
Menteri Pertanian Suswono di Pontianak, Kalimantan Barat, Minggu (1/7) malam, mengungkapkan produksi beras nasional tahun ini mencapai 37 juta ton. Sedangkan kebutuhan dalam negeri mencapai 33,5 juta ton. Sehingga, terjadi surplus 3,5 juta ton. Hanya saja, menurut Suswono, surplus itu belum mampu memenuhi cadangan pangan nasional. "Konsumsi nasional beras mencapai 2,8 juta ton per bulan. Jadi, untuk cadangan selama tiga bulan dibutuhkan sekitar 10 ton," kata politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut saat pembukaan rapat kerja dan konsultasi nasional Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo
Suswono mengakui persoalan perberasan sangat kompleks. Di satu sisi, pemerintah harus mencukupi kebutuhan beras untuk masyarakat dengan harga murah. Di sisi lain, pemerintah juga dituntut meningkatkan kesejahteraan petani.
"Peran Bulog (Badan Urusan Logistik) untuk menyerap beras lokal juga belum optimal, yakni hanya 2,3 juta ton. Sebab, penyerapannya dibatasi harga pembelian pemerintah," urainya.
Suswono juga mengkritik kalangan pengusaha yang lebih tertarik berinvestasi di sektor perkebunan, semisal kelapa sawit daripada sektor tanaman pangan. "Padahal, (bisnis) kelapa sawit suatu saat akan mengalami titik jenuh," kata dia.
PRODUKSI BERAS: Tahun ini diprediksi surplus 3 juta ton
Surplus produksi beras tahun ini diperkirakan sekitar 2-3 juta ton, sehingga stok beras nasional dinilai belum pada titik aman. Oleh karena itu, Kementerian Pertanian berpendapat jika ada rencana impor beras, maka untuk memperkuat cadangan beras nasional.
Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan mengatakan jika pada tahun ini ada rencana impor beras, maka importasi itu tidak dikaitkan dengan tidak swasembada. Hal itu disebabkan, produksi beras tahun ini surplus 2-3 juta ton, tetapi untuk memperkuat stok, maka kemungkinan diperlukan impor.
"Kalau ada wacana impor [beras], mudah-mudahan tidak impor, impor itu bukan soal swasembada, tetapi untuk lebih aman stok. Kalau swasembada, maka tidak salah kalau kita impor, lebih semata-mata supaya bangsa ini lebih aman, untuk mengurangi spekluasi harga," ujarnya akhir pekan lalu.
Dia menuturkan saat ini baru memasuki pertengahan tahun, masih ada sisa 6 bulan ke depan proses produksi padi yang belum dapat dipastikan. Kendati iklim dan cuaca tahun ini relatif bagus, tetapi tidak dapat dipastikan produksi ke depan berjalan dengan baik. "Kalau mau lebih yakin [stok aman] ya silakan [impor beras]."
Dia memperkirakan produksi padi tahun ini akan mencapai lebih dari 68 juta ton atau naik lebih dari 4% dibandingkan dengan tahun lalu. Produksi padi 68 juta ton itu jika dikonversikan menjadi beras sekitar 38 juta ton. Sementara itu konsumsi di dalam negeri 34 juta ton, sehingga surplus beras tahun ini 3-4 juta ton.
Namun, surplus produksi beras 3-4 juta ton, katanya, belum dapat diangap aman dari sisi stok nasional. "Sehingga kalau ada wacana impor, bukan berarti tidak ada beras, ada surplus, tetapi tidak secure [aman], kalau mau aman ya surplus 10 juta ton."
Kebutuhan beras nasional sekitar 2,7 juta ton per bulan. Jika surplus beras 10 juta ton, maka dapat memenuhi seluruh kebutuhan rakyat Indonesia selama 3-4 bulan.
Jika dalam periode tertentu terjadi gagal panen total, maka dengan surplus beras 10 juta ton itu akan mampu mensuplai seluruh kebutuhan beras di negeri ini selama 3-4 bulan walaupun tidak ada produksi sama sekali. "Tetapi jangan berharap seperti itu. 10 juta ton itu tingkat aman.
Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan mengatakan jika pada tahun ini ada rencana impor beras, maka importasi itu tidak dikaitkan dengan tidak swasembada. Hal itu disebabkan, produksi beras tahun ini surplus 2-3 juta ton, tetapi untuk memperkuat stok, maka kemungkinan diperlukan impor.
"Kalau ada wacana impor [beras], mudah-mudahan tidak impor, impor itu bukan soal swasembada, tetapi untuk lebih aman stok. Kalau swasembada, maka tidak salah kalau kita impor, lebih semata-mata supaya bangsa ini lebih aman, untuk mengurangi spekluasi harga," ujarnya akhir pekan lalu.
Dia menuturkan saat ini baru memasuki pertengahan tahun, masih ada sisa 6 bulan ke depan proses produksi padi yang belum dapat dipastikan. Kendati iklim dan cuaca tahun ini relatif bagus, tetapi tidak dapat dipastikan produksi ke depan berjalan dengan baik. "Kalau mau lebih yakin [stok aman] ya silakan [impor beras]."
Dia memperkirakan produksi padi tahun ini akan mencapai lebih dari 68 juta ton atau naik lebih dari 4% dibandingkan dengan tahun lalu. Produksi padi 68 juta ton itu jika dikonversikan menjadi beras sekitar 38 juta ton. Sementara itu konsumsi di dalam negeri 34 juta ton, sehingga surplus beras tahun ini 3-4 juta ton.
Namun, surplus produksi beras 3-4 juta ton, katanya, belum dapat diangap aman dari sisi stok nasional. "Sehingga kalau ada wacana impor, bukan berarti tidak ada beras, ada surplus, tetapi tidak secure [aman], kalau mau aman ya surplus 10 juta ton."
Kebutuhan beras nasional sekitar 2,7 juta ton per bulan. Jika surplus beras 10 juta ton, maka dapat memenuhi seluruh kebutuhan rakyat Indonesia selama 3-4 bulan.
Jika dalam periode tertentu terjadi gagal panen total, maka dengan surplus beras 10 juta ton itu akan mampu mensuplai seluruh kebutuhan beras di negeri ini selama 3-4 bulan walaupun tidak ada produksi sama sekali. "Tetapi jangan berharap seperti itu. 10 juta ton itu tingkat aman.
Jumat, 29 Juni 2012
Ratusan Hektare Padi di Tasikmalaya Gagal Panen
TASIKMALAYA—MICOM Seluas 700 hektare tanaman padi siap panen di Tasikmalaya dan sekitarnya gagal panen atau puso akibat dampak kemarau panjang yang beberapa pekan terakhir melanda wilayah itu, serta rusaknya beberapa saluran irigasi.
Kecamatan yang paling parah terkena dampak kekeringan, antara lain Kawalu, Indihiang, dan Sukaratu. Adapun kelurahan dan kecamatan lainnya masih termasuk kategori terancam gagal panen, seperti Cibeurueum dan Bebadahan.
Ketua Kelompok Tani Mitra Lestari (KTML) Ganda Saputra, Selasa (26/6), mengatakan areal tanaman yang gagal panen antara lain 2,5 bulan hingga 3 bulan. "Kerugian materil yang dialami masih dalam pendataan kelompok tani setempat. Termasuk menghitung biaya produksi, seperti pembelian pupuk dan benih," ungkapnya.
Namun, dari pemantauan Media Indonesia, kerugian akibat bencana kekeringan mencapai ratusan juta rupiah karena pada umumnya tanaman padi yang gagal panen sudah masuk dalam kategori siap panen.
Sementara itu, luas areal persawahan yang terancam puso di bawah 1.000 hektare. Hingga saat ini, petani setempat masih berupaya menyelamatkan tanaman mereka, di antaranya dengan melakukan sistem pompanisasi dan memperbaiki secara manual beberapa saluran irigasi.
Ganda menuturkan selain akibat kemarau panjang, penyebab kekeringan di wilayah Tasikmalaya adalah rusaknya sebagian besar saluran irigasi. "Untuk itu, kami minta dinas pertanian dan tanaman pangan melalui pemerintah daerah setempat untuk peduli terhadap keberadaan saluran irigasi yang sudah rusak, dan tidak terpakai. Ini jelas merugikan petani," pintanya.
Sedangkan untuk meminimalisasi merebaknya kekeringan di wilayah itu, beberapa kelompok tani berusaha mengairi ereal persawahnnya dengan cara manual. Mereka sengaja membuat alat penyedor air dari selokan dengan alat seadanya.
Gagal Panen Ancam Petani Selatan Sukabumi
Sukabumi - Dampak kekeringan mulai dirasakan masyarakat di wilayah Kabupaten Sukabumi. Salah satunya dirasakan para petani di wilayah Kecamatan Surade.
"Musim kemarau ini sudah kami rasakan dampaknya terjadi kekeringan di areal persawahan," kata Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Surade.
Menurut Sahlan, kekeringan akan mengakibatkan gagal panen (puso). Apalagi banyak petani yang mulai menanam padi pada bulan April lalu. Namun pada saat ini sudah merasakan kesulitan untuk mendapatkan air.
"Mayoritas areal persawahan di sini merupakan sawah tadah hujan. Sekarang sudah memasuki musim kemarau dan jarang sekali turun hujan," ujarnya.
Seharusnya, lanjut Sahlan, pada musim tanam kedua atau sekitar bulan April para petani tidak lagi menanam padi. Sebaiknya menanam tanaman palawija yang tidak terlalu membutuhkan air.
"Namun, masih banyak para petani yang belum menerapkannya. Walaupun ada beberapa petani yang saat ini sedang menanam palawija seperti kedelai," tutur Sahlan.[
"Musim kemarau ini sudah kami rasakan dampaknya terjadi kekeringan di areal persawahan," kata Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Surade.
Menurut Sahlan, kekeringan akan mengakibatkan gagal panen (puso). Apalagi banyak petani yang mulai menanam padi pada bulan April lalu. Namun pada saat ini sudah merasakan kesulitan untuk mendapatkan air.
"Mayoritas areal persawahan di sini merupakan sawah tadah hujan. Sekarang sudah memasuki musim kemarau dan jarang sekali turun hujan," ujarnya.
Seharusnya, lanjut Sahlan, pada musim tanam kedua atau sekitar bulan April para petani tidak lagi menanam padi. Sebaiknya menanam tanaman palawija yang tidak terlalu membutuhkan air.
"Namun, masih banyak para petani yang belum menerapkannya. Walaupun ada beberapa petani yang saat ini sedang menanam palawija seperti kedelai," tutur Sahlan.[
Harga Beras Naik, Petani Tak Kebagian Untung
Garut - Setelah sempat turun pada panen raya beberapa waktu lalu, harga beras di sejumlah kecamatan kini kembali mengalami kenaikan. Sejumlah pedagang beras menyebutkan, harga beras kembali naik diduga sebagai akibat berakhirnya panen raya pada musim tanam pertama.
Seorang bandar beras di Kampung Nangkaruka Kecamatan Pakenjeng, Sabda Nur (44) mengatakan, dalam sepekan terahir ini harga beras di daerahnya naik sekitar Rp300-Rp500 per kilogram. Saat ini, harga beras Sarinah Garut (SG) di tingkat penggilingan padi mencapai Rp7.300-Rp7.500 per kilogram, dari sebelumnya di bawah Rp7.000 per kilogram. Sedangkan selisih harga beras di tingkat pasar atau warung-warung lebih tinggi, antara Rp500-Rp1.000 per kilogram.
"Sekarang ini para pedagang beras harus saling berebut untuk mendapatkan beras. Harus cepet-cepetan. Kalau tidak, pedagang tidak mendapatkan pasokan beras," ujar Sabda Nur.
Pedagang beras lainnya, Endun (67) menduga, kenaikan harga beras selain karena faktor berakhirnya masa panen raya pertama, juga dipicu semakin dekatnya bulan Ramadan.
Namun kenaikan harga beras yang terjadi, ternyata tidak terlalu berdampak terhadap keuntungan yang diperoleh para petani. Mereka sama sekali tidak bisa menikmati kenaikan harga beras tersebut.
Sejumlah petani menyebutkan, hal itu karena hampir semua petani sudah selesai memanen padi, dan gabahnya sudah berpindah tangan ke para bandar.
"Sebagian besar petani saat ini sedang persiapan memasuki musim tanam kedua," ujar Ende (58), petani di Kecamatan Pangatikan
Petani Jabar Mulai Rasakan Dampak Kemarau
Cianjur- Petani dan peternak di kawasan Cianjur bagian utara, Jabar, mulai merasakan dampak musim kemarau, selain kesulitan mendapatkan air untuk menyiram tanaman, peternak di kawasan itu, kesulitan mendapat pakan ternak.
Ratusan petani di Kecamatan Cipanas, Pacet, Mande dan Cikalong, membenarkan hal tersebut. Saat ini petani sayuran mulai merasakan lansung dampak masuknya musim kemarau, akibatnya petani sayuran banyak yang merugi karena tanaman sayuran mereka terserang hama serta layu.
"Terlebih tanaman sayuran jarang disiram karena minim ketersediaan air, begitu juga halnya yang dialami petani padi, dampaknya setiap petani terlambat menanam kembali akibat air untuk mengairi sawah dari irigasi sudah kering," kata Gungun (38) petani sayuran di Kecamatan Pacet.
Hal senada terucap dari Sukur (54) pertani di wilayah Cipanas, dia mengungkapkan, meskipun ada petani yang saat ini panen, baik sayuran maupun padi, kualitas dari tanaman tersebut kurang bagus dan tidak menutup kemungkinan setiap petani merugi.
"Parahnya lagi kerugian yang dialami petani sayuran selain tanaman yang rusak akibat terserang hama penyakit, juga menurunnya nilai jual karena agen yang biasa menampung sayuran dari wilayah Cipanas, saat ini lebih banyak mengambil sayuran dari sentra sayuran yang ada di daerah lain," katanya.
Dia menambahkan, sejak datangnya musim kemarau tanaman kol yang ada di lahan miliknya jarang disiram, kurangnya air tersebut membuat tanamannya mudah terkena hama.
"Akibatnya kwalitas tanaman menjadi berkurang, diperparah dengan jatuhnya harga jual sayuran jenis kol sejak satu pekan terakhir, Rp3.500 perkilogram, saat ini harga menurun drastis Rp1.300 perkilogram," tandasnya.
Sementara itu, sejumlah peternak di wilayah yang sama, mengeluh kesulitan mendapatkan rumput untuk pakan ternak. Pasalnya sejak satu pekan terakhir, untuk mendapatkan rumput segar yang biasanya didapat dengan udah, saat ini, mereka terpaksa harus membeli.
"Rumput liar yang biasa mudah didapat, saat ini mengering kepanasan, sehingga untuk memberi makan ternak, kami terpaksa membeli ke sejumlah petani," kata Misbah peternak di Kecamatan Mande.
Langganan:
Postingan (Atom)


