Jumat, 29 Juni 2012
Petani Jabar Mulai Rasakan Dampak Kemarau
Cianjur- Petani dan peternak di kawasan Cianjur bagian utara, Jabar, mulai merasakan dampak musim kemarau, selain kesulitan mendapatkan air untuk menyiram tanaman, peternak di kawasan itu, kesulitan mendapat pakan ternak.
Ratusan petani di Kecamatan Cipanas, Pacet, Mande dan Cikalong, membenarkan hal tersebut. Saat ini petani sayuran mulai merasakan lansung dampak masuknya musim kemarau, akibatnya petani sayuran banyak yang merugi karena tanaman sayuran mereka terserang hama serta layu.
"Terlebih tanaman sayuran jarang disiram karena minim ketersediaan air, begitu juga halnya yang dialami petani padi, dampaknya setiap petani terlambat menanam kembali akibat air untuk mengairi sawah dari irigasi sudah kering," kata Gungun (38) petani sayuran di Kecamatan Pacet.
Hal senada terucap dari Sukur (54) pertani di wilayah Cipanas, dia mengungkapkan, meskipun ada petani yang saat ini panen, baik sayuran maupun padi, kualitas dari tanaman tersebut kurang bagus dan tidak menutup kemungkinan setiap petani merugi.
"Parahnya lagi kerugian yang dialami petani sayuran selain tanaman yang rusak akibat terserang hama penyakit, juga menurunnya nilai jual karena agen yang biasa menampung sayuran dari wilayah Cipanas, saat ini lebih banyak mengambil sayuran dari sentra sayuran yang ada di daerah lain," katanya.
Dia menambahkan, sejak datangnya musim kemarau tanaman kol yang ada di lahan miliknya jarang disiram, kurangnya air tersebut membuat tanamannya mudah terkena hama.
"Akibatnya kwalitas tanaman menjadi berkurang, diperparah dengan jatuhnya harga jual sayuran jenis kol sejak satu pekan terakhir, Rp3.500 perkilogram, saat ini harga menurun drastis Rp1.300 perkilogram," tandasnya.
Sementara itu, sejumlah peternak di wilayah yang sama, mengeluh kesulitan mendapatkan rumput untuk pakan ternak. Pasalnya sejak satu pekan terakhir, untuk mendapatkan rumput segar yang biasanya didapat dengan udah, saat ini, mereka terpaksa harus membeli.
"Rumput liar yang biasa mudah didapat, saat ini mengering kepanasan, sehingga untuk memberi makan ternak, kami terpaksa membeli ke sejumlah petani," kata Misbah peternak di Kecamatan Mande.
Selasa, 26 Juni 2012
Bulog tidak akan impor beras tahun ini
JAKARTA. Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) memastikan Indonesia tidak akan melakukan impor beras tahun 2012 ini. Hal tersebut dikarenakan hasil panen beras musim panen 2011 sampai pertengahan tahun 2012 mencukupi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Direktur Utama Perum Bulog, Sutarto Alimoeso menyatakan, produksi beras terbilang bagus, sehingga Bulog memiliki stok beras yang cukup selama sembilan bulan ke depan. "Insya Allah produksinya bagus, sehingga kami tidak perlu melakukan impor untuk memenuhi kebutuhan beras dalam negeri," tutur Sutarto usai rapat dengar pendapat dengan Komisi IV di Gedung DPR, Jakarta, Senin (25/6).
Sutarto bilang, pada prinsipnya impor beras bertujuan untuk mencukupi persediaan beras jika hasil panen tanah air tidak mencukupi. Untuk tahun ini, Sutarto menyebutkan, panen petani lebih baik dibandingkan dengan hasil panen tahun 2011 lalu.
Saat ini, Bulog memiliki stok beras nasional sebanyak 2,4 juta ton dan diperkirakan akan cukup untuk sampai Maret 2013. Dari 2,4 juta ton tersebut, sebanyak 200.000 ton merupakan beras cadangan pemerintah ditambah 266.000 ton beras untuk beras miskin (raskin). "Stok sebanyak 2,4 juta ton ini seluruhnya dari beras dalam negeri," kata Sutarto.
Berdasarkan pengamatan Bulog, lanjut Sutarto, kondisi iklim di Indonesia terbilang cukup normal dalam produksi padi. Karena itu, Sutarto mengaku tidak akan khawatir dengan permintaan beras konsumsi masyarakat, termasuk untuk hari raya Idul Fitri, pemberian raskin dan raskin ke-13. "Stok beras aman sampai dengan bulan Maret 2013 mendatang," ujar Sutarto.
Direktur Utama Perum Bulog, Sutarto Alimoeso menyatakan, produksi beras terbilang bagus, sehingga Bulog memiliki stok beras yang cukup selama sembilan bulan ke depan. "Insya Allah produksinya bagus, sehingga kami tidak perlu melakukan impor untuk memenuhi kebutuhan beras dalam negeri," tutur Sutarto usai rapat dengar pendapat dengan Komisi IV di Gedung DPR, Jakarta, Senin (25/6).
Sutarto bilang, pada prinsipnya impor beras bertujuan untuk mencukupi persediaan beras jika hasil panen tanah air tidak mencukupi. Untuk tahun ini, Sutarto menyebutkan, panen petani lebih baik dibandingkan dengan hasil panen tahun 2011 lalu.
Saat ini, Bulog memiliki stok beras nasional sebanyak 2,4 juta ton dan diperkirakan akan cukup untuk sampai Maret 2013. Dari 2,4 juta ton tersebut, sebanyak 200.000 ton merupakan beras cadangan pemerintah ditambah 266.000 ton beras untuk beras miskin (raskin). "Stok sebanyak 2,4 juta ton ini seluruhnya dari beras dalam negeri," kata Sutarto.
Berdasarkan pengamatan Bulog, lanjut Sutarto, kondisi iklim di Indonesia terbilang cukup normal dalam produksi padi. Karena itu, Sutarto mengaku tidak akan khawatir dengan permintaan beras konsumsi masyarakat, termasuk untuk hari raya Idul Fitri, pemberian raskin dan raskin ke-13. "Stok beras aman sampai dengan bulan Maret 2013 mendatang," ujar Sutarto.
Menteri pertanian larang Bulog impor beras
Kementerian Pertanian melarang perusahaan BUMN logistik Bulog tidak mengimpor beras walaupun banyak permintaan sebelum lebaran Idul Fitri. Bulog diminta mengutamakan penyerapan beras petani yang saat ini masih banyak. Selain itu, stok beras dalam negeri masih cukup untuk memenuhi kebutuhan permintaan sebelum lebaran.
“Kita harapkan kenaikan pasokan cukup baik, tapi Bulog jangan impor dulu, serap dulu dalam negeri,” ungkap Menteri Pertanian Suswono ketika ditemui di DPR, Senayan, Jakarta, Senin (25/6)
Dia mengklaim serapan tahun ini sudah lebih baik dari tahun lalu. Dengan target serapan akan mencapai 3 juta ton. Selain itu, Kementerian Pertanian optimis produksi dalam negeri akan naik sebesar 4 persen dibanding tahun lalu.
Suswono mengakui harga pembelian pemerintah menyusahkan Bulog dalam menyerap beras petani karena di berbagai daerah ada yang menjual beras diatas harga HPP. "Bulog harus pro aktif, panen kan sepanjang tahun, Bulog harus jemput bola," ungkapnya.
“Kita harapkan kenaikan pasokan cukup baik, tapi Bulog jangan impor dulu, serap dulu dalam negeri,” ungkap Menteri Pertanian Suswono ketika ditemui di DPR, Senayan, Jakarta, Senin (25/6)
Dia mengklaim serapan tahun ini sudah lebih baik dari tahun lalu. Dengan target serapan akan mencapai 3 juta ton. Selain itu, Kementerian Pertanian optimis produksi dalam negeri akan naik sebesar 4 persen dibanding tahun lalu.
Suswono mengakui harga pembelian pemerintah menyusahkan Bulog dalam menyerap beras petani karena di berbagai daerah ada yang menjual beras diatas harga HPP. "Bulog harus pro aktif, panen kan sepanjang tahun, Bulog harus jemput bola," ungkapnya.
Senin, 25 Juni 2012
Musim Kemarau Datang Lebih Awal, Ratusan Petani di Bancak Gagal Panen
Ratusan petani di wilayah Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang mengalami gagal panen (puso) karena lahan mereka tidak mendapatkan pasokan air irigasi. Akibatnya, petani diperkirakan mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah.
Jaenuri (53) salah satu petani dari Desa Boto mengatakan, dalam setahun biasanya dirinya bersama petani lainnya bisa panen padi sebanyak dua kali. Namun karena musim kemarau 2012 datang lebih awal, dirinya kini hanya bisa memanen padi sekali saja.
"Sejak April lalu, kami sudah kesulitan mendapatkan air untuk pengairan sawah. Kondisi demikian berlanjut sampai sekarang dan membuat padi banyak yang tidak berisi (kopong)," katanya saat ditemui Suara Merdeka, Jumat (22/6).
Hal yang sama dikatakan Kepala Desa Boto, Sjaichul Hadi. Menurutnya, musim kemarau tahun ini termasuk paling parah setelah sebelumnya juga terjadi pada 2008 silam. Selain cuaca ekstrim, pihaknya menyinyalir, sejumlah saluran irigasi yang rusak juga mempengaruhi pasokan air menuju sawah petani.
"Kekeringan di Desa Boto berdampak pada gagal panen sekaligus perekonomian masyarakat. Petani semakin terlilit hutang, karena mereka meminjam uang kepada koperasi secara musiman. Kondisi dua unit embung tadah hujan juga mengering karena dangkal," ujarnya.
Selain di Desa Boto, lanjutnya, kekeringan juga melanda desa tetangga di Kecamatan Bancak, diantaranya Desa Wonokerto, Lembu, Bantal, Plumutan, dan Desa Rejosari. Berdasarkan rinciannya, di Desa Boto lebih kurang ada 50 hektar lahan pertanian yang puso, kerugian diperkirakan mencapai Rp 750 juta. Untuk menekan jumlah kerugian, pihaknya berharap kepada dinas terkait untuk memperbaiki saluran irigasi yang ada.
Jaenuri (53) salah satu petani dari Desa Boto mengatakan, dalam setahun biasanya dirinya bersama petani lainnya bisa panen padi sebanyak dua kali. Namun karena musim kemarau 2012 datang lebih awal, dirinya kini hanya bisa memanen padi sekali saja.
"Sejak April lalu, kami sudah kesulitan mendapatkan air untuk pengairan sawah. Kondisi demikian berlanjut sampai sekarang dan membuat padi banyak yang tidak berisi (kopong)," katanya saat ditemui Suara Merdeka, Jumat (22/6).
Hal yang sama dikatakan Kepala Desa Boto, Sjaichul Hadi. Menurutnya, musim kemarau tahun ini termasuk paling parah setelah sebelumnya juga terjadi pada 2008 silam. Selain cuaca ekstrim, pihaknya menyinyalir, sejumlah saluran irigasi yang rusak juga mempengaruhi pasokan air menuju sawah petani.
"Kekeringan di Desa Boto berdampak pada gagal panen sekaligus perekonomian masyarakat. Petani semakin terlilit hutang, karena mereka meminjam uang kepada koperasi secara musiman. Kondisi dua unit embung tadah hujan juga mengering karena dangkal," ujarnya.
Selain di Desa Boto, lanjutnya, kekeringan juga melanda desa tetangga di Kecamatan Bancak, diantaranya Desa Wonokerto, Lembu, Bantal, Plumutan, dan Desa Rejosari. Berdasarkan rinciannya, di Desa Boto lebih kurang ada 50 hektar lahan pertanian yang puso, kerugian diperkirakan mencapai Rp 750 juta. Untuk menekan jumlah kerugian, pihaknya berharap kepada dinas terkait untuk memperbaiki saluran irigasi yang ada.
Kajian Kapasitas Tunda Jual Petani Padi
Kapasitas tunda-jual merupakan kemampuan rumahtangga tani dan atau kelompok dalam menahan sementara waktu penjualan hasil panennya. Kapasitas tunda jual terkait dengan watak hasil panen (gabah) sebagai bahan pangan pokok sekaligus sebagai salah satu sumber uang tunai rumahtangga. Karena itu kapasitas tunda jual bisa berorientasi subsisten dan bisa pula komersial.
Kapasitas menunda jual panenan, baik pada tingkat rumahtangga maupun kelompok dipengaruhi secara umum dipengaruhi oleh 1) produktivitas agronomis dan ekonomis dan 2) bentuk-bentuk hubungan produksi yang dominan. Produktivitas agronomis berarti seberapa panjang jangka waktu sawah sanggup diolah dengan hasil optimal. Hal ini dipengaruhi terutama oleh tingkat kesuburan tanah dan ketersediaan air. Lahan sawah yang sanggup ditanami padi untuk dua kali musim tanam padi berarti memberikan lebih banyak kemungkinan petani untuk mendapatkan pasokan gabah.
Produktivitas ekonomis berarti lahan sanggup menghasilkan jumlah panenan yang memungkinkan rumahtangga tani tidak hanya mereproduksi kegiatan produksinya, tetapi juga memperoleh nilai yang melampaui ongkos produksinya. Produktivitas ekonomis lahan terkait dengan luasan rata-rata lahan sawah yang dikelola rumahtangga tani. Semakin luas lahan, kemungkinan untuk mendapatkan nilai yang melampaui ongkos produksi makin besar.
Hubungan produksi berkenaan dengan hubungan antar orang dalam kaitannya dengan faktor-faktor produksi utama seperti lahan garapan dan tenaga-kerja. Hubungan sewa-tunai dalam penguasaan lahan cenderung meningkatkan kebutuhan rumahtangga tani untuk menjual segera panenannya. Sewa-tunai yang dibayar satu atau dua musim sebelum hak olah didapat akan memaksa petani-petani penggarap untuk menjual panenan demi mendapatkan uang-tunai yang akan mengamankan penguasaan hak garapnya. Sewa-tunai juga cenderung meningkatkan berkembangkan sistem pembelian panenan secara tebasan.
Di dalam lembaga tebasan, petani menjual langsung panenan saat padi masih di sawah. Kepastian akan pasokan tenaga-kerja yang segera dan mobil memaksa para penebas untuk tidak mengandalkan pasokan tenaga-kerja dari desa setempat. Dengan demikian buruh-buruh tani desa setempat akan cenderung kehilangan kesempatan mendapatkan tambahan gabah atau pemasukan uang tunai rumahtangganya.
Berbeda dengan sewa-tunai, hubungan bagi-hasil merupakan bentuk hubungan pemanfaatan hak guna usaha dengan pembayaran yang in natura atau setidaknya dilakukan setelah panen, memungkinkan petani penggarap untuk mendapatkan sejumlah tertentu gabah yang bisa disimpan sementara untuk dijual di kemudian hari. Kebutuhan akan uang-tunai di dalam lembaga bagi-hasil tidak mencakup pembayaran hak guna usaha, tetapi terutama untuk ongkos produksi. Karena kebutuhan petani pengarap akan hasil panenan, secara ekonomis lahan-lahan yang dikelola secara bagi-hasil merupakan salah satu sumber perolehan tambahan gabah bagi rumahtangga tani dari satu lingkup ketetanggaan yang sama dengan penggarapnya. Secara sosiologis artinya pemeliharaan ikatan saling bantu di antara penduduk sepertetanggaan bisa terpelihara dan bisa menjadi modal untuk pengembangan pengorganisasian kelompok-kelompok tani setempat.
Kapasitas Tunda Jual di Tingkat Rumahtangga
Kapasitas tunda jual di tingkat rumahtangga tani individual dipengaruhi oleh seberapa banyak rumahtangga mempunyai sumber dan saluran penghidupan di luar gabah. Semakin beragam sumber pendapatan rumahtangga, semakin tinggi pula kemungkinan untuk menunda jual hasil panen. Sebaliknya, semakin rendahnya tingkat keragaman sumber pendapatan, akan makin tinggi pula tingkat penjualan segera hasil panen. Terutama pada waktu-waktu tertentu yang memaksa rumahtangga tani menjual gabah demi uang tunai seperti masuknya musim tanam atau masuknya tahun akademik lembaga pendidikan.
Dalam pandangan sosiogeografis kaum tani, sawah-tegalan-pekarangan merupakan tritunggal tradisional sumber-sumber penghidupan tradisional rumahtangga. Sawah ditempatkan sebagai sumber bahan pangan utama, beras; pekarangan dan tegalan ditempatkan sebagai sumber pasokan bahan bakar harian, pakan ternak, tambahan pangan, dan uang tunai. Dalam konteks kapasitas tunda-jual gabah, faktor produktivitas pekarangan dan tegalan mempengaruhi kesanggupan rumahtangga mendapatkan bahan-bahan penunjang kehidupan rumahtangga, baik yang terkait dengan kebutuhan sehari-hari maupun, dan terutama, dengan kebutuhan di masa depan atau kebutuhan mendadak yang memerlukan uang tunai cukup besar.
Keragaman sumber pendapatan sendiri dipengaruhi oleh komposisi jender dan usia rumahtangga. Untuk bisa disimpan, gabah panenan harus dijemur. Penjemuran ini tidak hanya memerlukan petak penjemuran, tetapi juga waktu dan tenaga-kerja. Rumahtangga yang hanya terdiri dari suami atau istri tanpa pasangan hidup serta anak-anak yang bisa dikerahkan untuk bekerja cenderung untuk menebaskan panennya. Sementara rumahtangga dengan banyak tenaga-kerja, mungkin akan bisa menunda jual hasil panen karena punya sumberdaya untuk menjemur gabah. Komposisi usia mempengaruhi secara relatif tingkat kebutuhan akan uang tunai juga. Rumahtangga dengan anak-anak usia sekolah memerlukan pasokan uang tunai yang relatif rutin sehingga seringkali dipaksa untuk menjual segera hasil panen yang diperolehnya.
Rumahtangga yang boleh dikatakan berhasil menunda jual hasil panen bahkan hingga beberapa minggu menjelang masuknya musim tanam pertama (Nopember-Desember) ialah rumahtangga tani dengan ragam sumber perolehan uang tunai yang relatif tetap seperti pegawai negeri yang juga menggarap lahan dan mengelola tegalan serta pekarangannya sedemikian rupa bisa menjadi sumber uang tunai musiman yang memadai memenuhi kebutuhan hidup rumahtangga.
Kapasitas Tunda Jual Kolektif
Pada tingkat kehidupan kolektif, kapasitas tunda jual kolektif dipengaruhi oleh 1) sense of crisis kolektif, 2) kebiasaan kolektif dalam kaitannya dengan penyimpanan sebagian hasil panen, 3) keberadaan kelompok-kelompok yang mendorong kebiasaan menunda jual panenan.
Pada tingkat kolektif, pengalaman akan krisis-krisis subsistensi seperti kemarau panjang yang mengurangi pasokan cadangan gabah bisa menumbuhkan kesadaran akan krisis (sense of crisis). Apabila disertai oleh pengorganisasian diri kelompok pertetanggaan yang baik serta keeratan sosial yang terpeliharan melalui kebiasaan kolektif, sense of crisis ini bisa menjadi pendorong warga untuk menciptakan mekanisme penyimpanan hasil panen sebagai lumbung penjaminan kolektif akan krisis subsistensi. Praktik-praktik lumbung paceklik yang sudah lama terbangun di tingkat pertetanggaan merupakan contoh dari bentuk pengorganisasian diri kaum tani yang bisa dikembangkan lebih lanjut untuk peningkatan kapasita tunda jual di tingkat kolektif.
Karena hasil panen juga berkedudukan sebagai sumber uang tunai, maka kapasitas tunda jual kolektif dipengaruhi oleh keragaman sumber pendapatan rumahtangga tani di desa. Tingkat migrasi sementara di antara golongan usia muda untuk bekerja sebagai buruh bangunan di kota-kota menunjukkan bahwa sumber pendapatan di desa tidak mencukupi. Watak produksi pertanian yang jeda tanpa kerja-kerja pertaniannya cukup tinggi mungkin merupakan salah satu sebab penting migrasi keluar ini. Selain, tentu saja, tingkat upah yang tergolong rendah untuk kerja-kerja pertanian dan lemahnya perkembangan industri pedesaan merupakan sebab penting juga.
Kapasitas menunda jual panenan, baik pada tingkat rumahtangga maupun kelompok dipengaruhi secara umum dipengaruhi oleh 1) produktivitas agronomis dan ekonomis dan 2) bentuk-bentuk hubungan produksi yang dominan. Produktivitas agronomis berarti seberapa panjang jangka waktu sawah sanggup diolah dengan hasil optimal. Hal ini dipengaruhi terutama oleh tingkat kesuburan tanah dan ketersediaan air. Lahan sawah yang sanggup ditanami padi untuk dua kali musim tanam padi berarti memberikan lebih banyak kemungkinan petani untuk mendapatkan pasokan gabah.
Produktivitas ekonomis berarti lahan sanggup menghasilkan jumlah panenan yang memungkinkan rumahtangga tani tidak hanya mereproduksi kegiatan produksinya, tetapi juga memperoleh nilai yang melampaui ongkos produksinya. Produktivitas ekonomis lahan terkait dengan luasan rata-rata lahan sawah yang dikelola rumahtangga tani. Semakin luas lahan, kemungkinan untuk mendapatkan nilai yang melampaui ongkos produksi makin besar.
Hubungan produksi berkenaan dengan hubungan antar orang dalam kaitannya dengan faktor-faktor produksi utama seperti lahan garapan dan tenaga-kerja. Hubungan sewa-tunai dalam penguasaan lahan cenderung meningkatkan kebutuhan rumahtangga tani untuk menjual segera panenannya. Sewa-tunai yang dibayar satu atau dua musim sebelum hak olah didapat akan memaksa petani-petani penggarap untuk menjual panenan demi mendapatkan uang-tunai yang akan mengamankan penguasaan hak garapnya. Sewa-tunai juga cenderung meningkatkan berkembangkan sistem pembelian panenan secara tebasan.
Di dalam lembaga tebasan, petani menjual langsung panenan saat padi masih di sawah. Kepastian akan pasokan tenaga-kerja yang segera dan mobil memaksa para penebas untuk tidak mengandalkan pasokan tenaga-kerja dari desa setempat. Dengan demikian buruh-buruh tani desa setempat akan cenderung kehilangan kesempatan mendapatkan tambahan gabah atau pemasukan uang tunai rumahtangganya.
Berbeda dengan sewa-tunai, hubungan bagi-hasil merupakan bentuk hubungan pemanfaatan hak guna usaha dengan pembayaran yang in natura atau setidaknya dilakukan setelah panen, memungkinkan petani penggarap untuk mendapatkan sejumlah tertentu gabah yang bisa disimpan sementara untuk dijual di kemudian hari. Kebutuhan akan uang-tunai di dalam lembaga bagi-hasil tidak mencakup pembayaran hak guna usaha, tetapi terutama untuk ongkos produksi. Karena kebutuhan petani pengarap akan hasil panenan, secara ekonomis lahan-lahan yang dikelola secara bagi-hasil merupakan salah satu sumber perolehan tambahan gabah bagi rumahtangga tani dari satu lingkup ketetanggaan yang sama dengan penggarapnya. Secara sosiologis artinya pemeliharaan ikatan saling bantu di antara penduduk sepertetanggaan bisa terpelihara dan bisa menjadi modal untuk pengembangan pengorganisasian kelompok-kelompok tani setempat.
Kapasitas Tunda Jual di Tingkat Rumahtangga
Kapasitas tunda jual di tingkat rumahtangga tani individual dipengaruhi oleh seberapa banyak rumahtangga mempunyai sumber dan saluran penghidupan di luar gabah. Semakin beragam sumber pendapatan rumahtangga, semakin tinggi pula kemungkinan untuk menunda jual hasil panen. Sebaliknya, semakin rendahnya tingkat keragaman sumber pendapatan, akan makin tinggi pula tingkat penjualan segera hasil panen. Terutama pada waktu-waktu tertentu yang memaksa rumahtangga tani menjual gabah demi uang tunai seperti masuknya musim tanam atau masuknya tahun akademik lembaga pendidikan.
Dalam pandangan sosiogeografis kaum tani, sawah-tegalan-pekarangan merupakan tritunggal tradisional sumber-sumber penghidupan tradisional rumahtangga. Sawah ditempatkan sebagai sumber bahan pangan utama, beras; pekarangan dan tegalan ditempatkan sebagai sumber pasokan bahan bakar harian, pakan ternak, tambahan pangan, dan uang tunai. Dalam konteks kapasitas tunda-jual gabah, faktor produktivitas pekarangan dan tegalan mempengaruhi kesanggupan rumahtangga mendapatkan bahan-bahan penunjang kehidupan rumahtangga, baik yang terkait dengan kebutuhan sehari-hari maupun, dan terutama, dengan kebutuhan di masa depan atau kebutuhan mendadak yang memerlukan uang tunai cukup besar.
Keragaman sumber pendapatan sendiri dipengaruhi oleh komposisi jender dan usia rumahtangga. Untuk bisa disimpan, gabah panenan harus dijemur. Penjemuran ini tidak hanya memerlukan petak penjemuran, tetapi juga waktu dan tenaga-kerja. Rumahtangga yang hanya terdiri dari suami atau istri tanpa pasangan hidup serta anak-anak yang bisa dikerahkan untuk bekerja cenderung untuk menebaskan panennya. Sementara rumahtangga dengan banyak tenaga-kerja, mungkin akan bisa menunda jual hasil panen karena punya sumberdaya untuk menjemur gabah. Komposisi usia mempengaruhi secara relatif tingkat kebutuhan akan uang tunai juga. Rumahtangga dengan anak-anak usia sekolah memerlukan pasokan uang tunai yang relatif rutin sehingga seringkali dipaksa untuk menjual segera hasil panen yang diperolehnya.
Rumahtangga yang boleh dikatakan berhasil menunda jual hasil panen bahkan hingga beberapa minggu menjelang masuknya musim tanam pertama (Nopember-Desember) ialah rumahtangga tani dengan ragam sumber perolehan uang tunai yang relatif tetap seperti pegawai negeri yang juga menggarap lahan dan mengelola tegalan serta pekarangannya sedemikian rupa bisa menjadi sumber uang tunai musiman yang memadai memenuhi kebutuhan hidup rumahtangga.
Kapasitas Tunda Jual Kolektif
Pada tingkat kehidupan kolektif, kapasitas tunda jual kolektif dipengaruhi oleh 1) sense of crisis kolektif, 2) kebiasaan kolektif dalam kaitannya dengan penyimpanan sebagian hasil panen, 3) keberadaan kelompok-kelompok yang mendorong kebiasaan menunda jual panenan.
Pada tingkat kolektif, pengalaman akan krisis-krisis subsistensi seperti kemarau panjang yang mengurangi pasokan cadangan gabah bisa menumbuhkan kesadaran akan krisis (sense of crisis). Apabila disertai oleh pengorganisasian diri kelompok pertetanggaan yang baik serta keeratan sosial yang terpeliharan melalui kebiasaan kolektif, sense of crisis ini bisa menjadi pendorong warga untuk menciptakan mekanisme penyimpanan hasil panen sebagai lumbung penjaminan kolektif akan krisis subsistensi. Praktik-praktik lumbung paceklik yang sudah lama terbangun di tingkat pertetanggaan merupakan contoh dari bentuk pengorganisasian diri kaum tani yang bisa dikembangkan lebih lanjut untuk peningkatan kapasita tunda jual di tingkat kolektif.
Karena hasil panen juga berkedudukan sebagai sumber uang tunai, maka kapasitas tunda jual kolektif dipengaruhi oleh keragaman sumber pendapatan rumahtangga tani di desa. Tingkat migrasi sementara di antara golongan usia muda untuk bekerja sebagai buruh bangunan di kota-kota menunjukkan bahwa sumber pendapatan di desa tidak mencukupi. Watak produksi pertanian yang jeda tanpa kerja-kerja pertaniannya cukup tinggi mungkin merupakan salah satu sebab penting migrasi keluar ini. Selain, tentu saja, tingkat upah yang tergolong rendah untuk kerja-kerja pertanian dan lemahnya perkembangan industri pedesaan merupakan sebab penting juga.
Terguyur Hujan Deras, Beginilah Nasib Padi Siap Panen
Kendari-Ratusan hektare padi sawah siap panen di Kabupaten Bombana dan Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara (Sultra), rusak akibat tingginya curah hujan yang turun selama beberapa hari terakhir ini.
Pantauan di Kecamatan Rarowatu Utara dan Rarowatu Tengah, Kabupaten Bombana, padi yang sudah menguning dan menunggu panen itu, kini rebah akibat hujan yang disertai angin kencang, mengakibatkan batang padi yang sudah tua itu tidak mampu menahan air dan angin.
"Kalau tanaman padi sudah rebah seperti ini, maka otomatis mempengaruhi kualitas produksi, dimana gabah dan berasnya akan berwarna kemerah-merahan sehingga berdampak pada harga nantinya," kata H Ahmad, petani dan pengusaha beras di daerah itu.
Ia mengatakan, tanaman padi sawah yang siap panen itu, kini buahnya sudah dipastikan rusak akibat tergenang air akibat hujan yang turun selama empat hari berturut-turut di wilayah itu.
Menurut Ahmad, areal padi sawah tadah hujan maupun irigasi di dua kecamatan itu
mencapai 2.000-an hektare lebih dari luas seluruhnya areal persawahan di Kabupaten Bombana yang mencapai 12 ribu hektare lebih.
Kadis Pertanian Kabupaten Bombana Syarifuddin mengatakan, dari luas areal persawahan di Kabupaten Bombana, sekitar 50 persen berada di Kacamatan Poleang, Poleang Timur dan Poleang Barat. Sementara sisanya tersebar di beberapa kecamatan lain, yakni Rumbia, Rumbiah Timur, Rarowatu Induk dan Kecamatan Kabaena.
"Dari luas areal persawahan itu, hanya sekitar 75 persen yang diolah petani pada musim tanam tahun ini. Hal ini disebabkan karena saat petani baru akan mengolah sawahnya, sangat terbatas air sehingga tidak semuanya bisa ditanami," katanya.
Apalagi areal persawahan di Bombana, banyak yang mengharapkan air tadah hujan hanya bisa diolah pada saat musim timur dengan intensitas curah hujan yang tinggi seperti saat ini.
Pantauan di Kecamatan Rarowatu Utara dan Rarowatu Tengah, Kabupaten Bombana, padi yang sudah menguning dan menunggu panen itu, kini rebah akibat hujan yang disertai angin kencang, mengakibatkan batang padi yang sudah tua itu tidak mampu menahan air dan angin.
"Kalau tanaman padi sudah rebah seperti ini, maka otomatis mempengaruhi kualitas produksi, dimana gabah dan berasnya akan berwarna kemerah-merahan sehingga berdampak pada harga nantinya," kata H Ahmad, petani dan pengusaha beras di daerah itu.
Ia mengatakan, tanaman padi sawah yang siap panen itu, kini buahnya sudah dipastikan rusak akibat tergenang air akibat hujan yang turun selama empat hari berturut-turut di wilayah itu.
Menurut Ahmad, areal padi sawah tadah hujan maupun irigasi di dua kecamatan itu

mencapai 2.000-an hektare lebih dari luas seluruhnya areal persawahan di Kabupaten Bombana yang mencapai 12 ribu hektare lebih.
Kadis Pertanian Kabupaten Bombana Syarifuddin mengatakan, dari luas areal persawahan di Kabupaten Bombana, sekitar 50 persen berada di Kacamatan Poleang, Poleang Timur dan Poleang Barat. Sementara sisanya tersebar di beberapa kecamatan lain, yakni Rumbia, Rumbiah Timur, Rarowatu Induk dan Kecamatan Kabaena.
"Dari luas areal persawahan itu, hanya sekitar 75 persen yang diolah petani pada musim tanam tahun ini. Hal ini disebabkan karena saat petani baru akan mengolah sawahnya, sangat terbatas air sehingga tidak semuanya bisa ditanami," katanya.
Apalagi areal persawahan di Bombana, banyak yang mengharapkan air tadah hujan hanya bisa diolah pada saat musim timur dengan intensitas curah hujan yang tinggi seperti saat ini.
Kamis, 21 Juni 2012
Wamendag: Impor Beras dari Thailand Belum Pasti
Wakil Menteri Perdagangan Indonesia, Bayu Krisnamurthi, menegaskan belum ada kepastian soal rencana pemerintah impor 1 juta ton beras Thailand. Kepastian impor beras menunggu rapat koordinasi Menko Perekonomian sehubungan dengan stabilisasi pangan di Indonesia. “Belum ada kepastian soal beras Thailand,” katanya, Rabu, 20 Juni 2012.
Bayu mengakui ada kesepakatan antara pemerintah Indonesia dan Thailand soal penyediaan pangan untuk masyarakat negeri ini. Kesepakatan antarnegara ini berlaku selama kurun waktu 7 hingga 8 tahun ke depan.
Namun impor beras dilakukan saat dirasakan pemerintah Indonesia kesulitan dalam penyediaan ketahanan pangan bagi masyarakat. Memasuki bulan Juni tahun ini, menurut dia, pemerintah belum memutuskan kondisi ketahanan pangan Indonesia terkait dengan beberapa indikator penilaian.
Indikator penilaian pemerintah berupa produksi nasional, stok Bulog, harga beras di pasaran, dan permintaan daerah. Keempat indikator ini belum dapat disimpulkan adanya ketahanan pangan pemerintah pada tahun ini. “Belum ada keputusannya. Tunggu saja nanti,” ucap Bayu.
Tentang agenda pertemuan dengan Menteri Perdagangan Thailand, Boonsong Teriyapirom, Bayu memastikan akan tetap terjadi pada petang ini di Jakarta. Pertemuan itu nantinya bersifat global hubungan perdagangan bilateral dua negara bersahabat di ASEAN. “Tentunya sebagai sesama negara besar akan banyak hal yang kita bahas. Bukan hanya soal beras itu saja,” ucapnya.
Media Thailand sudah melansir penandatanganan nota kesepahaman kerja sama kedua negara soal jual-beli beras di Thailand. Menteri Perdagangan ke Jakarta bertemu dengan Direktur Utama Bulog, Sutarto Alimoeso, untuk membicarakan suplai beras dari Thailand.
Bayu mengakui ada kesepakatan antara pemerintah Indonesia dan Thailand soal penyediaan pangan untuk masyarakat negeri ini. Kesepakatan antarnegara ini berlaku selama kurun waktu 7 hingga 8 tahun ke depan.
Namun impor beras dilakukan saat dirasakan pemerintah Indonesia kesulitan dalam penyediaan ketahanan pangan bagi masyarakat. Memasuki bulan Juni tahun ini, menurut dia, pemerintah belum memutuskan kondisi ketahanan pangan Indonesia terkait dengan beberapa indikator penilaian.
Indikator penilaian pemerintah berupa produksi nasional, stok Bulog, harga beras di pasaran, dan permintaan daerah. Keempat indikator ini belum dapat disimpulkan adanya ketahanan pangan pemerintah pada tahun ini. “Belum ada keputusannya. Tunggu saja nanti,” ucap Bayu.
Tentang agenda pertemuan dengan Menteri Perdagangan Thailand, Boonsong Teriyapirom, Bayu memastikan akan tetap terjadi pada petang ini di Jakarta. Pertemuan itu nantinya bersifat global hubungan perdagangan bilateral dua negara bersahabat di ASEAN. “Tentunya sebagai sesama negara besar akan banyak hal yang kita bahas. Bukan hanya soal beras itu saja,” ucapnya.
Media Thailand sudah melansir penandatanganan nota kesepahaman kerja sama kedua negara soal jual-beli beras di Thailand. Menteri Perdagangan ke Jakarta bertemu dengan Direktur Utama Bulog, Sutarto Alimoeso, untuk membicarakan suplai beras dari Thailand.
Langganan:
Postingan (Atom)

